Membuat Bootable USB Windows 10 dengan Rufus

Updated on April 9, 2026

Gambaran Besar

Begini logikanya: file ISO Windows 10 itu ibarat “cetakan kue” dalam bentuk digital. Masalahnya, komputer tidak bisa langsung “memakan” file ISO mentah dari flashdisk biasa. Flashdisk-nya harus diubah dulu jadi bootable, artinya flashdisk itu bisa dibaca oleh komputer saat pertama kali dinyalakan, sebelum sistem operasi apa pun jalan.

Nah, Rufus adalah alat yang mengubah flashdisk biasa jadi bootable. Dia “menulis ulang” isi flashdisk supaya komputer bisa booting (menyala pertama kali) dari situ.

Tapi sebelum klik tombol START di Rufus, ada satu keputusan yang harus diambil: pakai skema MBR atau GPT? Ini bukan pilihan asal-asalan. Salah pilih, komputer target tidak akan bisa booting dari flashdisk itu.


MBR vs GPT: Apa Bedanya?

Bayangkan flashdisk (atau hard disk) itu seperti sebuah buku. Sebelum bisa diisi tulisan, buku itu perlu “daftar isi” supaya komputer tahu di mana data disimpan. Nah, MBR dan GPT adalah dua cara berbeda untuk membuat “daftar isi” itu.

MBR (Master Boot Record)

  • Teknologi lama, sudah ada sejak tahun 1983.
  • Bekerja dengan sistem BIOS Legacy (firmware lama yang ada di komputer-komputer tua).
  • Batas maksimal: hanya bisa menangani disk sampai 2 TB. Lebih dari itu, sisa kapasitasnya tidak terbaca.
  • Maksimal 4 partisi primer. Kalau mau lebih, harus pakai trik “extended partition.”

GPT (GUID Partition Table)

  • Teknologi baru, standar untuk komputer modern.
  • Bekerja dengan UEFI (Unified Extensible Firmware Interface), pengganti BIOS yang lebih canggih.
  • Bisa menangani disk jauh lebih besar dari 2 TB.
  • Mendukung sampai 128 partisi tanpa perlu trik tambahan.

Cara tahu komputer target pakai BIOS atau UEFI?

Cara paling gampang: nyalakan komputer, perhatikan layar awal. Kalau tampilannya berbasis teks dengan warna biru tua klasik, kemungkinan besar BIOS Legacy. Kalau tampilannya grafikal (bisa diklik pakai mouse, ada gambar-gambar), itu UEFI. Cara lain kalau sudah ada Windows terpasang: buka Run (tekan Windows+R), ketik msinfo32, tekan Enter, lalu lihat baris “BIOS Mode.” Tertulis “Legacy” berarti MBR, tertulis “UEFI” berarti GPT.

Aturan sederhananya: komputer yang diproduksi setelah tahun 2012-2013 hampir pasti sudah UEFI. Jadi untuk kebanyakan PC di lab sekolah yang relatif baru, pilih GPT.


Langkah demi Langkah: Membuat USB Bootable dengan Rufus

Persiapan (sebelum buka Rufus)

  1. Siapkan USB Flash Drive minimal 8 GB. Semakin cepat USB-nya (USB 3.0 lebih baik dari USB 2.0), semakin cepat prosesnya.
  2. Backup semua data di flashdisk itu sekarang. Serius, semua isinya akan dihapus bersih. Tidak bisa di-undo. Pindahkan file-file penting ke komputer atau tempat lain dulu.
  3. Siapkan file ISO Windows 10. Ukurannya biasanya sekitar 4-5 GB. Kalau belum punya, bisa unduh langsung dari situs resmi Microsoft pakai Media Creation Tool.
  4. Unduh Rufus dari rufus.ie. Rufus itu aplikasi portable, artinya tidak perlu diinstall. Tinggal klik dua kali file .exe-nya, langsung jalan.

Proses di Rufus

Langkah 1: Colokkan flashdisk, lalu buka Rufus.

Begitu Rufus terbuka, perhatikan bagian paling atas: “Device.” Di situ muncul daftar drive yang terdeteksi. Pilih flashdisk yang benar. Ini titik kritis. Kalau di komputer ada beberapa drive eksternal, pastikan yang dipilih memang flashdisk yang mau dijadikan bootable, bukan hard disk eksternal berisi data skripsi atau koleksi foto.

Langkah 2: Pilih file ISO.

Klik tombol “SELECT” (ada di sebelah kanan tulisan “Boot selection”). Jendela file explorer terbuka. Cari file ISO Windows 10, klik, lalu klik Open. Rufus akan membaca isi ISO itu. Nama file ISO-nya akan muncul di samping tombol SELECT tadi.

Langkah 3: Atur Partition Scheme.

Di sinilah keputusan MBR vs GPT diambil.

  • Kalau komputer target pakai BIOS Legacy → pilih MBR.
  • Kalau komputer target pakai UEFI (kebanyakan PC modern) → pilih GPT.

Begitu kamu ganti Partition Scheme, kolom “Target system” di bawahnya otomatis ikut berubah:

  • MBR → Target system jadi “BIOS (or UEFI-CSM)”
  • GPT → Target system jadi “UEFI (non CSM)”

Kamu tidak perlu mengubah Target system secara manual. Biarkan Rufus yang menyesuaikan.

Langkah 4: Pengaturan lain (biasanya biarkan default).

  • File system: untuk Windows 10 biasanya NTFS. Rufus sudah otomatis memilihkan.
  • Cluster size: biarkan default.
  • Volume label: boleh diganti nama sesukamu, misalnya “WIN10_INSTALL.” Ini cuma label nama, tidak mempengaruhi fungsi.

Langkah 5: Klik START.

Rufus akan menampilkan peringatan bahwa semua data di flashdisk akan dihapus. Klik OK. Proses dimulai. Ada progress bar di bagian bawah. Tunggu sampai statusnya berubah jadi “READY.” Waktu yang dibutuhkan sekitar 5-15 menit, tergantung kecepatan USB dan ukuran ISO.

Setelah status “READY” muncul, klik CLOSE. Flashdisk bootable sudah siap dipakai.


Apa yang Bisa Salah?

1. Flashdisk tidak terdeteksi di Rufus. Coba cabut dan colokkan ulang. Coba port USB yang lain. Kalau masih tidak muncul, kemungkinan flashdisk rusak, atau ada driver USB yang bermasalah.

2. Salah pilih MBR/GPT. Ini kesalahan paling sering. Gejalanya: saat booting dari flashdisk, komputer tidak menemukan apa-apa, atau muncul pesan error. Solusinya: ulangi proses di Rufus dengan pilihan yang benar. Tidak ada jalan pintas selain mengulang.

3. File ISO corrupt (rusak). Kalau proses download ISO tidak sempurna (misalnya putus di tengah jalan), file ISO-nya bisa rusak. Rufus kadang tetap bisa memproses, tapi saat instalasi Windows nanti akan muncul error di tengah jalan. Solusi: unduh ulang file ISO-nya.

4. Salah pilih drive. Ini yang paling fatal. Kalau salah pilih drive (misalnya memilih hard disk eksternal, bukan flashdisk), semua data di drive itu hilang. Selalu cek dua kali nama dan kapasitas drive di kolom Device sebelum klik START.

5. Flashdisk kapasitas kurang. File ISO Windows 10 sekitar 4-5 GB. Flashdisk 4 GB tidak cukup karena ada overhead dari proses formatting. Minimal pakai 8 GB.


Verifikasi: Bagaimana Tahu USB Bootable Berhasil?

Setelah Rufus selesai, buka File Explorer dan lihat isi flashdisk. Kalau berhasil, di dalamnya akan ada folder-folder seperti boot, efi, sources, dan beberapa file seperti setup.exe. Kalau kamu lihat struktur itu, berarti flashdisk sudah siap dipakai untuk instalasi.

Tes yang lebih pasti: coba boot komputer dari flashdisk itu. Masuk ke BIOS/UEFI (biasanya tekan F2, F12, Del, atau Esc saat komputer baru dinyalakan), ubah urutan boot supaya USB jadi yang pertama, lalu restart. Kalau muncul layar instalasi Windows, selamat, flashdisk bootable-nya bekerja.


Kuis

  1. Kamu diminta menginstall Windows 10 di komputer lab keluaran tahun 2020. Saat membuka Rufus, kamu harus memilih skema partisi apa, dan kenapa?
  2. Temanmu panik karena setelah membuat USB bootable, komputer target tidak mau booting dari flashdisk dan menampilkan pesan “No bootable device found.” Apa kemungkinan penyebabnya, dan apa langkah pertama yang kamu lakukan untuk memperbaikinya?
  3. Apa perbedaan utama antara BIOS Legacy dan UEFI yang langsung berpengaruh pada proses pembuatan USB bootable di Rufus?

Next