Konfigurasi DHCP Server pada MikroTik

Updated on April 5, 2026

Gambaran besar dulu

Bayangkan kamu punya warung kopi. Setiap tamu yang datang harus dapat nomor meja supaya bisa dilayani. Ada dua cara: tamu pilih sendiri nomor mejanya (manual), atau kasir yang bagikan nomor meja otomatis begitu tamu masuk (otomatis).

DHCP Server itu “kasir”-nya. Dia yang membagikan IP Address ke setiap PC client secara otomatis. Tanpa DHCP, kamu harus setting IP satu per satu di setiap komputer. Kalau cuma 3 PC, masih oke. Kalau 30 PC di lab? Capek.

DHCP itu singkatan dari Dynamic Host Configuration Protocol. “Dynamic” artinya berubah-ubah, “Host” artinya perangkat (PC, laptop, HP), “Configuration” artinya pengaturan, “Protocol” artinya aturan komunikasi. Jadi intinya: aturan untuk memberikan pengaturan jaringan ke perangkat secara otomatis.

Syarat sebelum mulai

Skenario kita begini: MikroTik sudah jalan sebagai Internet Gateway (artinya sudah bisa konek internet). Interface ether2 terhubung ke switch, dan beberapa PC client nyolok ke switch itu. PC client belum punya IP, masih diset “Obtain Automatically.”

Satu hal yang sering bikin gagal: DHCP Server hanya bisa diaktifkan di interface yang sudah punya IP Address. Jadi pastikan ether2 sudah dikasih IP dulu. Kalau belum, DHCP Setup-nya bakal error.

Cek dulu:

/ip address print

Pastikan ada baris yang menunjukkan ether2 punya alamat 192.168.1.1/24. Kalau belum ada, tambahkan dulu:

/ip address add address=192.168.1.1/24 interface=ether2

Langkah-langkah setup DHCP Server

Cara 1: Lewat CLI (Terminal/Console)

Ketik perintah ini:

/ip dhcp-server setup

MikroTik akan bertanya beberapa hal secara berurutan. Ini jawabannya:

Pertanyaan wizard Jawaban yang diisi Artinya
Select interface to run DHCP Server on ether2 DHCP jalan di port ini
Select network for DHCP addresses 192.168.1.0/24 Rentang jaringan yang dipakai
Select gateway for given network 192.168.1.1 Alamat router, supaya client bisa akses internet lewat sini
Select pool of ip addresses given out by DHCP server 192.168.1.2-192.168.1.50 Range IP yang dibagikan ke client. Angka 2-50 artinya maksimal 49 client
Select DNS servers 192.168.1.1 Server DNS supaya client bisa buka nama website. Bisa juga pakai DNS publik seperti 8.8.8.8
Select lease time 00:10:00 Berapa lama IP “dipinjamkan.” 10 menit untuk latihan, biar cepat keliatan perubahannya

Selesai. Wizard ini otomatis membuatkan DHCP Server, IP Pool, dan DHCP Network sekaligus.

Cara 2: Lewat WinBox

  1. Buka WinBox, login ke MikroTik
  2. Klik menu IP > DHCP Server
  3. Klik tombol DHCP Setup
  4. Pilih interface: ether2
  5. Isi parameter sama seperti tabel di atas
  6. Klik Next terus sampai selesai

Hasilnya persis sama dengan cara CLI. Wizard WinBox dan CLI itu cuma beda tampilan, di belakang layar perintahnya sama.

Verifikasi: pastikan DHCP Server sudah jalan

Jangan langsung puas setelah setup. Cek tiga hal ini:

Cek 1 — DHCP Server aktif atau belum

/ip dhcp-server print

Perhatikan kolom “disabled.” Kalau tertulis “no,” berarti sudah aktif. Perhatikan juga kolom “interface” harus menunjuk ke ether2.

Cek 2 — Range IP pool benar atau belum

/ip pool print

Pastikan range-nya sesuai: 192.168.1.2-192.168.1.50.

Cek 3 — Gateway dan DNS sudah benar

/ip dhcp-server network print

Pastikan gateway terisi 192.168.1.1 dan DNS juga terisi.

Kalau salah satu dari tiga ini keliru, client bisa dapat IP tapi tidak bisa internet, atau malah tidak dapat IP sama sekali.

Di sisi PC client

  1. Buka Network Settings di PC
  2. Pastikan sudah diset ke “Obtain an IP address automatically” (DHCP mode)
  3. Buka Command Prompt (tekan Win+R, ketik cmd, Enter)
  4. Ketik:
ipconfig /release

Perintah ini melepas IP lama (kalau ada).

  1. Lalu ketik:
ipconfig /renew

Perintah ini minta IP baru dari DHCP Server.

  1. Ketik ipconfig untuk lihat hasilnya. IP Address yang muncul harus ada di rentang 192.168.1.2 sampai 192.168.1.50.

Kalau yang muncul malah IP aneh seperti 169.254.x.x, itu artinya PC gagal dapat IP dari DHCP. Alamat 169.254 itu IP “darurat” yang dibuat Windows sendiri ketika tidak ada DHCP Server yang merespons. Cek ulang kabel, cek DHCP Server di MikroTik, cek interface-nya benar atau tidak.

Memantau siapa saja yang dapat IP

Di MikroTik, ketik:

/ip dhcp-server lease print

Akan muncul tabel berisi:

  • IP Address yang dipinjamkan
  • MAC Address client (alamat fisik kartu jaringan, setiap perangkat punya MAC unik)
  • Status aktif atau sudah kadaluarsa
  • Sisa waktu lease

Ini berguna banget untuk troubleshooting. Misalnya ada 30 PC tapi cuma 25 yang dapat IP, bisa dilihat di sini siapa yang sudah dapat dan siapa yang belum.

Fitur bonus: Make Static (mengunci IP untuk client tertentu)

Kadang ada perangkat yang butuh IP tetap tapi tetap mau pakai DHCP. Contohnya printer jaringan atau server lokal. Caranya:

  1. Biarkan perangkat itu dapat IP lewat DHCP dulu
  2. Buka /ip dhcp-server lease print
  3. Cari lease perangkat itu (kenali dari MAC Address-nya)
  4. Klik kanan (di WinBox) atau ketik perintah: make-static pada lease tersebut

Setelah di-make-static, perangkat itu akan selalu dapat IP yang sama setiap kali konek. DHCP tetap jalan, tapi IP-nya “dipesan” khusus untuk MAC Address itu.

Istilah-istilah yang perlu kamu ingat

  • Pool: rentang IP yang disediakan untuk dibagikan
  • Lease: “masa pinjam” IP. Setelah habis, client harus minta perpanjangan atau dapat IP baru
  • Lease Time: berapa lama masa pinjam itu. Di lab pakai 10 menit biar cepat keliatan efeknya. Di kantor atau sekolah biasanya 1 sampai 8 jam
  • Gateway: alamat router yang jadi “pintu keluar” ke internet
  • DNS Server: server yang menerjemahkan nama website (seperti google.com) jadi IP Address

Jebakan yang sering terjadi

  1. Lupa kasih IP di interface dulu. DHCP Setup langsung error dan siswa bingung kenapa.
  2. Range pool bentrok dengan IP router. Kalau router pakai 192.168.1.1, jangan mulai pool dari 192.168.1.1. Mulai dari .2 supaya tidak tabrakan.
  3. Lease time terlalu pendek di jaringan produksi. Di lab, 10 menit oke untuk latihan. Tapi kalau dipakai di jaringan sekolah yang sesungguhnya dengan lease 10 menit, setiap 10 menit semua PC harus minta perpanjangan. Ini bikin traffic DHCP yang tidak perlu.
  4. Sudah ada DHCP Server lain di jaringan yang sama. Kalau ternyata ada dua DHCP Server di satu jaringan (misalnya dari router lain yang tidak sengaja aktif), client bisa dapat IP dari server yang salah. Ini bikin koneksi kacau. Pastikan cuma ada satu DHCP Server per subnet.
  5. Kabel tidak nyambung ke switch atau port switch mati. Masalah paling “bodoh” tapi paling sering terjadi. Sebelum troubleshooting yang rumit-rumit, cek fisik dulu: kabelnya sudah nyolok belum, lampu indikator di switch nyala tidak.

Kuis pemahaman

  1. Kenapa DHCP Server tidak bisa diaktifkan kalau interface-nya belum punya IP Address? Dan apa yang terjadi kalau kamu tetap memaksa setup tanpa IP di interface?
  2. PC client kamu dapat IP 169.254.10.5 setelah menjalankan ipconfig /renew. Apa artinya ini, dan langkah pertama apa yang kamu lakukan untuk troubleshooting?
  3. Di lab ada 40 PC, tapi kamu setting pool range hanya 192.168.1.2-192.168.1.30. Apa yang terjadi pada PC ke-31 dan seterusnya saat mereka coba konek?

Next