Gambaran Besar Dulu
Bayangkan warnet. Ada banyak komputer, tapi semuanya nyolok ke satu alat di tengah ruangan namanya switch. Itu topologi Star. Setiap komputer punya “jalur sendiri” ke switch, tidak berbagi kabel dengan komputer lain.
Beda sama topologi Bus yang semua komputernya numpang satu kabel besar bersama-sama, seperti satu selang air yang dicolokin banyak orang. Kalau selangnya bocor, semua kena.
Di Star, kalau kabel satu komputer putus, komputer lain tidak terganggu sama sekali. Makanya topologi ini paling banyak dipakai di dunia nyata.
Sebelum Mulai: Pahami Dulu Ini
Kita pakai jaringan 192.168.10.0/24. Artinya:
- Network address: 192.168.10.0
- Subnet mask: 255.255.255.0
- Range IP yang bisa dipakai: 192.168.10.1 sampai 192.168.10.254
Keempat PC kita dapat IP dari range itu. Selama mereka di network yang sama (192.168.10.x dengan subnet mask yang sama), mereka bisa saling ping tanpa butuh router.
Kabel yang dipakai: kabel straight. Ini kabel untuk menghubungkan perangkat yang berbeda jenis, misalnya PC ke switch. Kalau PC ke PC langsung, baru pakai kabel crossover.
Langkah-Langkah Implementasi
Langkah 1 – Hubungkan fisik dulu
Ambil 4 kabel straight. Colokkan satu ujung ke port mana saja di switch, ujung satunya ke port LAN di masing-masing PC. Tidak ada urutan khusus, port switch manapun bisa.
Kalau pakai Cisco Packet Tracer: pilih kabel Copper Straight-Through, klik PC, pilih FastEthernet0, lalu klik switch dan pilih port yang kosong.
Langkah 2 – Setting IP di setiap PC
Buka pengaturan IP di masing-masing PC:
| PC | IP Address | Subnet Mask |
|---|---|---|
| PC1 | 192.168.10.1 | 255.255.255.0 |
| PC2 | 192.168.10.2 | 255.255.255.0 |
| PC3 | 192.168.10.3 | 255.255.255.0 |
| PC4 | 192.168.10.4 | 255.255.255.0 |
Bagian Default Gateway dikosongkan saja. Gateway dibutuhkan kalau kita mau keluar ke jaringan lain atau internet. Sekarang kita cuma komunikasi internal, jadi tidak perlu.
Di Windows nyata: buka Control Panel → Network → Properties → TCP/IPv4 → Use the following IP address → isi IP dan subnet mask.
Di Packet Tracer: klik PC → tab Desktop → IP Configuration → isi manual.
Langkah 3 – Verifikasi koneksi dengan ping
Buka Command Prompt di PC1. Ketik:
ping 192.168.10.2
ping 192.168.10.3
ping 192.168.10.4
Kalau berhasil, muncul balasan Reply from 192.168.10.x. Kalau muncul Request Timed Out atau Destination Host Unreachable, ada yang salah, cek langkah troubleshooting di bawah.
Langkah 4 – Simulasi kerusakan satu link
Cabut kabel PC3 dari switch (di Packet Tracer: hapus kabel ke PC3 saja).
Sekarang ping lagi dari PC1:
ping 192.168.10.2 ← harus tetap Reply
ping 192.168.10.4 ← harus tetap Reply
ping 192.168.10.3 ← tidak bisa, karena kabelnya memang dicabut
Ini inti dari keunggulan topologi Star: kerusakan satu jalur tidak menyebar ke jalur lain.
Langkah 5 – Amati dan catat
Hubungkan kembali kabel PC3, ping sekali lagi. Semua harus Reply.
Apa yang Bisa Salah (Troubleshooting Mindset)
Masalah paling umum yang sering terjadi:
-
IP salah ketik – Misalnya PC1 diisi 192.168.1.1 (bukan 192.168.10.1). Ini penyebab nomor satu ping gagal. Selalu cek ulang angka ketiganya.
-
Subnet mask lupa diisi atau salah – Kalau subnet mask tidak sama di semua PC, mereka bisa “menganggap” diri mereka di jaringan berbeda padahal IPnya sudah benar.
-
Kabel straight dipakai untuk PC ke PC langsung – Kalau tidak ada switch dan dua PC langsung disambung, harus pakai kabel crossover. Tapi kalau lewat switch, kabel straight sudah benar.
-
Firewall Windows aktif – Di Windows nyata (bukan simulasi), ping bisa diblokir firewall. Di lab Packet Tracer tidak ada masalah ini.
-
Switch belum terhubung ke power – Kelihatan sepele, tapi sering terjadi. Lampu indikator port switch harus nyala hijau/orange.
Kenapa Topologi Star Paling Populer?
Satu catatan penting tentang switch dibanding hub (alat lama yang bentuknya mirip): switch lebih cerdas. Switch hapal MAC address setiap PC yang terhubung di port mana. Jadi kalau PC1 kirim data ke PC3, data itu langsung dikirim ke port PC3 saja, tidak disebar ke semua port. Ini bikin jaringan lebih efisien dan aman.
Hub tidak bisa begitu. Hub sebar data ke semua port, jadi semua PC “dengar” semua data. Bandwidth jadi tidak efisien dan rawan disadap.
Kekurangan topologi Star cuma satu: kalau switch-nya mati, seluruh jaringan lumpuh. Switch adalah single point of failure. Solusinya di jaringan besar: pakai dua switch (redundansi), tapi itu pembahasan topologi yang lebih lanjut.
Kuis Pemahaman
-
PC1 (IP: 192.168.10.1) melakukan ping ke PC4 (IP: 192.168.10.4) tetapi hasilnya
Request Timed Out. Semua kabel sudah terpasang. Apa dua kemungkinan penyebab paling umum yang perlu dicek pertama kali? -
Kenapa pada praktik ini kita tidak perlu mengisi kolom Default Gateway di konfigurasi IP setiap PC?
-
Setelah kabel PC2 dicabut dari switch, apakah PC1 masih bisa berkomunikasi dengan PC3 dan PC4? Jelaskan alasannya berdasarkan cara kerja topologi Star.