Identifikasi Perangkat Jaringan Utama: HUB, Switch, Router

Updated on April 5, 2026

Gambaran Besar: Kenapa Ada Tiga Perangkat Berbeda?

Coba bayangkan begini. Kamu tinggal di kompleks perumahan.

HUB itu seperti tukang pos yang malas. Dia terima surat untuk Pak Andi di rumah nomor 5, tapi dia malah fotokopi surat itu dan lempar ke semua rumah. Rumah nomor 1 sampai 10 semuanya dapat. Boros, berisik, dan nggak efisien. Tapi ya, suratnya tetap nyampai.

Switch itu tukang pos yang lebih pintar. Dia punya catatan: “Pak Andi tinggal di rumah nomor 5.” Jadi surat langsung diantar ke rumah nomor 5 saja. Rumah lain nggak diganggu.

Router itu kurir antar-kota. Kalau surat tujuannya ke kota lain (jaringan lain), dia yang urus. Dia tahu jalur mana yang harus ditempuh supaya surat sampai ke kota tujuan.

Tiga perangkat, tiga level kecerdasan. Semakin tinggi levelnya, semakin pintar perangkat itu menentukan ke mana data harus dikirim.


Langkah 1: Amati Fisik Perangkat

Sebelum nyalakan apapun, pegang dulu ketiga perangkat. Perhatikan beberapa hal:

Jumlah port. HUB dan Switch biasanya punya 4, 8, 16, atau 24 port Ethernet (lubang RJ-45). Secara fisik mereka mirip banget. Router biasanya portnya lebih sedikit, misalnya 5 port di MikroTik RB951.

Lampu indikator. Setiap port punya lampu LED kecil. Kalau port itu terhubung ke perangkat dan aktif, lampunya nyala atau berkedip.

Label pada bodi. Di Router, port-port biasanya diberi label seperti ether1, ether2, ether3, dan seterusnya. Di HUB dan Switch, biasanya cuma nomor: 1, 2, 3, dst.

Konektor. Ketiganya pakai konektor RJ-45 untuk kabel UTP. Router kadang punya port tambahan seperti port USB atau slot SFP (untuk kabel fiber optik), tapi untuk sekarang abaikan dulu yang itu.

Catat merek dan model masing-masing perangkat di buku catatanmu.


Langkah 2: Praktik dengan HUB

Sekarang kita mulai dari perangkat paling “bodoh.”

Siapkan 3 PC atau laptop. Hubungkan ketiganya ke HUB pakai kabel UTP straight. Pastikan ketiga PC sudah dikasih IP address yang satu jaringan, misalnya:

  • PC1: 192.168.1.1 subnet mask 255.255.255.0
  • PC2: 192.168.1.2 subnet mask 255.255.255.0
  • PC3: 192.168.1.3 subnet mask 255.255.255.0

Cara set IP di Windows: buka Command Prompt, tapi lebih gampang lewat Control Panel > Network and Sharing Center > Change adapter settings > klik kanan adapter Ethernet > Properties > Internet Protocol Version 4 > isi manual.

Setelah IP terpasang, buka Command Prompt di PC1 dan ketik:

ping 192.168.1.2

Ini artinya PC1 mengirim data ke PC2. Sekarang perhatikan lampu indikator di HUB.

Yang terjadi: lampu di semua port berkedip. Port 1, port 2, port 3, semuanya. Padahal data cuma ditujukan ke PC2.

Kenapa begitu? Karena HUB kerja di OSI Layer 1 (Physical Layer). Dia cuma mengerti sinyal listrik. Dia nggak bisa baca alamat tujuan. Jadi setiap data yang masuk dari satu port, dia copy dan kirim ke semua port lain. Istilah teknisnya: broadcast.

Analoginya balik lagi ke tukang pos yang malas tadi. Semua rumah dapat surat, meskipun cuma satu yang dituju.

Yang bisa salah: kalau PC yang terhubung banyak (misalnya 20 PC), HUB jadi sangat lambat karena semua data dikirim ke semua port. Ini namanya collision domain, artinya data bisa “tabrakan” di tengah jalan. Makanya HUB sekarang sudah hampir nggak dipakai lagi di jaringan modern.


Langkah 3: Pindah ke Switch

Cabut semua kabel dari HUB. Pindahkan ke Switch. IP address di PC nggak perlu diubah, biarkan tetap sama.

Kirim ping lagi dari PC1 ke PC2:

ping 192.168.1.2

Sekarang perhatikan lampu indikator di Switch.

Yang terjadi: hanya lampu di port PC1 (pengirim) dan port PC2 (penerima) yang berkedip aktif. Port PC3? Tenang-tenang saja. Nggak ada data yang lewat ke sana.

Kenapa beda? Karena Switch kerja di OSI Layer 2 (Data Link Layer). Dia punya kemampuan yang nggak dimiliki HUB: dia bisa membaca MAC Address.

MAC Address itu alamat unik yang ditanam di setiap kartu jaringan (NIC) sejak diproduksi di pabrik. Formatnya seperti ini: AA:BB:CC:DD:EE:FF. Setiap perangkat di dunia punya MAC Address yang berbeda.

Saat pertama kali dinyalakan, Switch belum tahu perangkat mana di port mana. Tapi begitu ada data lewat, Switch mencatat: “Oh, perangkat dengan MAC Address AA:BB:CC:DD:EE:FF ada di port 1.” Catatan ini disimpan di MAC Address Table (kadang disebut juga CAM Table).

Jadi Switch itu tukang pos yang rajin bikin catatan. Setelah beberapa saat, dia hafal siapa tinggal di mana. Data langsung dikirim ke port yang tepat.

Yang bisa salah: Switch baru dinyalakan, MAC Address Table-nya masih kosong. Ping pertama kemungkinan dikirim ke semua port dulu (mirip HUB) sampai Switch selesai “belajar” alamat-alamat yang terhubung. Ini proses normal dan cuma terjadi sebentar.


Langkah 4: Eksperimen dengan Router

Nah, ini level yang berbeda. Router bukan sekadar mengirim data di satu jaringan. Router menghubungkan dua jaringan yang berbeda.

Siapkan topologinya:

  • PC1 dikasih IP 192.168.1.1/24, gateway 192.168.1.254
  • PC1 dihubungkan ke port ether2 Router
  • PC2 dikasih IP 192.168.2.1/24, gateway 192.168.2.254
  • PC2 dihubungkan ke port ether3 Router

Gateway itu “pintu keluar” dari jaringan lokal. Kalau PC1 mau kirim data ke jaringan lain, data itu dikirim dulu ke gateway, yaitu Router.

Sekarang konfigurasikan IP di Router. Buka WinBox, connect ke Router, lalu:

Lewat WinBox: IP > Addresses > klik tanda “+”, tambahkan:

  • Address: 192.168.1.254/24, Interface: ether2
  • Address: 192.168.2.254/24, Interface: ether3

Lewat CLI (Terminal di WinBox):

/ip address add address=192.168.1.254/24 interface=ether2
/ip address add address=192.168.2.254/24 interface=ether3

Setelah itu, tes ping dari PC1 ke PC2:

ping 192.168.2.1

Kalau konfigurasi benar, ping akan berhasil (Reply from 192.168.2.1).

Kenapa Router bisa melakukan ini padahal Switch nggak bisa? Karena Router kerja di OSI Layer 3 (Network Layer). Dia membaca IP Address, bukan MAC Address. Dan dia punya Routing Table, yaitu peta yang berisi “jaringan A bisa dijangkau lewat interface ini, jaringan B lewat interface itu.”

Router itu kurir antar-kota tadi. Dia tahu kalau surat tujuannya ke Semarang, harus lewat jalur tol Pantura. Kalau ke Yogyakarta, lewat jalur selatan.

Yang bisa salah (dan ini sering banget terjadi di lab):

  • Lupa set gateway di PC. Tanpa gateway, PC nggak tahu harus kirim data ke mana kalau tujuannya di luar jaringannya sendiri.
  • IP Address Router dan PC nggak satu jaringan. Misalnya PC1 dikasih IP 192.168.1.1/24 tapi interface Router dikasih 192.168.10.254/24. Ini nggak nyambung.
  • Setiap interface Router harus masuk ke jaringan yang berbeda. Kalau ether2 dan ether3 dikasih IP di jaringan yang sama (misalnya dua-duanya 192.168.1.x), Router akan bingung dan muncul tanda “I” (Invalid) di routing table.

Langkah 5: Buat Tabel Perbandingan

Sekarang rangkum semua yang sudah kamu amati ke dalam tabel:

HUB Switch Router
OSI Layer Layer 1 (Physical) Layer 2 (Data Link) Layer 3 (Network)
Dasar pengiriman data Broadcast ke semua port Berdasarkan MAC Address Berdasarkan IP Address
Tabel memori Tidak punya MAC Address Table Routing Table
Bisa hubungkan beda jaringan? Tidak Tidak Ya
Kecepatan relatif Lambat (banyak collision) Cepat Tergantung konfigurasi

Langkah 6: Kenalan dengan Repeater dan Bridge

Ada dua perangkat lagi yang perlu kamu tahu, meskipun sekarang sudah jarang dipakai sebagai perangkat terpisah.

Repeater. Fungsinya cuma satu: memperkuat sinyal. Kalau kabel jaringan terlalu panjang (lebih dari 100 meter untuk kabel UTP), sinyal melemah. Repeater dipasang di tengah-tengah untuk “menyegarkan” sinyal supaya sampai ke tujuan. Repeater kerja di Layer 1, sama seperti HUB. Bedanya, Repeater biasanya cuma punya 2 port (masuk dan keluar), sedangkan HUB punya banyak port. Sebenarnya HUB itu bisa dibilang Repeater yang punya banyak port.

Bridge. Fungsinya menghubungkan dua segmen jaringan. Misalnya kamu punya 10 PC di ruang A terhubung ke satu HUB, dan 10 PC di ruang B terhubung ke HUB lain. Bridge dipasang di antara dua HUB itu supaya ruang A dan ruang B bisa saling berkomunikasi, tapi broadcast dari ruang A nggak membanjiri ruang B. Bridge kerja di Layer 2, sama seperti Switch. Bedanya, Bridge biasanya cuma punya 2-4 port, sedangkan Switch modern punya puluhan. Switch itu pada dasarnya Bridge yang sudah berevolusi.

Jadi polanya begini:

  • Repeater berevolusi jadi HUB (sama-sama Layer 1)
  • Bridge berevolusi jadi Switch (sama-sama Layer 2)
  • Router tetap Router (Layer 3), dan sampai sekarang masih dipakai di mana-mana

Kuis Pemahaman

Jawab tiga pertanyaan ini tanpa buka catatan dulu. Setelah menjawab, baru boleh cek ulang.

  1. Kamu ping dari PC1 ke PC3 lewat sebuah HUB 8 port. Berapa port yang lampu indikatornya akan berkedip, dan kenapa?
  2. Switch baru saja dinyalakan dan MAC Address Table-nya masih kosong. Apa yang terjadi saat PC1 mengirim ping pertama ke PC2? Apakah perilakunya sama persis seperti HUB, atau ada bedanya?
  3. PC1 (192.168.1.1) dan PC2 (192.168.2.1) terhubung ke Router, tapi ping dari PC1 ke PC2 gagal (Request timed out). Sebutkan tiga kemungkinan penyebabnya yang paling sering terjadi di lab.

Next