EtherChannel (Link Aggregation) pada Cisco Switch

Updated on April 29, 2026

Gambaran Besar dulu

Bayangkan kamu punya dua jalur kereta yang menghubungkan Stasiun A dan Stasiun B. Kalau pakai sistem biasa, hanya satu jalur yang aktif, jalur satunya diblokir supaya tidak tabrakan. Hasilnya? Kapasitas mubazir.

EtherChannel solusinya. Dua (atau lebih) kabel fisik antara dua switch digabung jadi satu koneksi logis. Hasilnya: semua kabel aktif, bandwidth berlipat, dan kalau satu kabel putus, yang lain masih jalan. Tidak ada downtime.

Ini persis masalah yang terjadi di jaringan switch: kalau kamu pasang dua kabel antara dua switch tanpa EtherChannel, Spanning Tree Protocol (STP) akan memblokir salah satunya supaya tidak ada loop. Kabel kedua jadi tidur. Sia-sia.


Dua Protokol, Satu Tujuan

Ada dua cara negosiasi EtherChannel secara otomatis:

PAgP (Port Aggregation Protocol) — ini buatan Cisco. Hanya bekerja antar perangkat Cisco.

LACP (Link Aggregation Control Protocol) — ini standar terbuka dari IEEE. Bisa dipakai lintas vendor, misalnya Cisco dengan HP atau Huawei.

Analoginya: PAgP itu bahasa khusus internal kantor Cisco saja, sedangkan LACP adalah bahasa Inggris — semua orang mengerti.


Skenario Lab Kita

Dua switch, S1 dan S3, terhubung lewat dua port: Fa0/3 dan Fa0/4. Kita gabungkan keduanya jadi satu Port-channel bernomor 1.


Langkah Implementasi

Bagian 1: Konfigurasi PAgP

PAgP butuh dua mode yang bisa “bersepakat”: desirable dan auto.

  • desirable = aktif menawarkan negosiasi (“hei, mau gabung EtherChannel tidak?”)
  • auto = pasif, mau gabung kalau diajak

Syaratnya: minimal satu sisi harus desirable. Kalau dua-duanya auto, tidak ada yang memulai negosiasi — EtherChannel tidak terbentuk.

Di S1 (mode desirable — yang aktif mengajak):

S1(config)# interface range fa0/3-4
S1(config-if-range)# channel-group 1 mode desirable
S1(config-if-range)# no shutdown

Di S3 (mode auto — yang pasif menerima ajakan):

S3(config)# interface range fa0/3-4
S3(config-if-range)# channel-group 1 mode auto
S3(config-if-range)# no shutdown

Begitu konfigurasi ini dijalankan, Cisco otomatis membuat interface baru bernama Port-channel1 (disingkat Po1). Interface ini yang akan menjadi “wajah tunggal” dari dua kabel tadi.


Bagian 2: Verifikasi EtherChannel terbentuk

S1# show etherchannel summary

Lihat baris outputnya:

Group  Port-channel  Protocol  Ports
1      Po1(SU)       PAgP      Fa0/3(P)  Fa0/4(P)

Baca flagnya seperti kode rahasia:

  • S = Layer 2 (ini switch biasa, bukan router)
  • U = in use, artinya EtherChannel aktif dipakai
  • P di belakang nama port = port tersebut sudah terbundle masuk ke dalam channel

Kalau kamu lihat D (down) atau I (standalone), berarti ada masalah — cek lagi konfigurasi.


Bagian 3: Konfigurasi trunk di Port-channel

Setelah EtherChannel terbentuk, port-channel-nya perlu dikonfigurasi sebagai trunk supaya bisa membawa traffic dari banyak VLAN.

Konfigurasi ini cukup di interface Po1 saja — otomatis berlaku juga ke Fa0/3 dan Fa0/4.

S1(config)# interface port-channel 1
S1(config-if)# switchport mode trunk
S1(config-if)# switchport trunk native vlan 99

Lakukan hal yang sama di S3:

S3(config)# interface port-channel 1
S3(config-if)# switchport mode trunk
S3(config-if)# switchport trunk native vlan 99

Native VLAN 99 itu artinya traffic tanpa tag VLAN akan dianggap masuk ke VLAN 99 — ini standar yang biasa dipakai untuk VLAN manajemen.


Bagian 4: Verifikasi detail

S1# show run interface fa0/3

Outputnya akan terlihat seperti ini:

interface FastEthernet0/3
 switchport trunk native vlan 99
 switchport mode trunk
 channel-group 1 mode desirable

Artinya konfigurasi trunk dari Po1 sudah otomatis “menetes” ke port fisiknya. Ini normal dan memang begitu cara kerjanya.


Bagian 5: Alternatif — pakai LACP

Kalau jaringan kamu campur vendor (tidak semua Cisco), pakai LACP. Logikanya sama persis dengan PAgP, cuma kata-katanya berbeda:

PAgP LACP
desirable (aktif) active
auto (pasif) passive

Satu aturan penting: jangan pakai passive di kedua sisi — sama saja dengan auto-auto di PAgP. Tidak ada yang memulai, EtherChannel tidak jadi.

Contoh konfigurasi LACP antara S1 dan S2:

S1(config)# interface range fa0/1-2
S1(config-if-range)# switchport mode trunk
S1(config-if-range)# switchport trunk native vlan 99
S1(config-if-range)# channel-group 2 mode active
S1(config-if-range)# no shutdown

S2(config)# interface range fa0/1-2
S2(config-if-range)# switchport mode trunk
S2(config-if-range)# switchport trunk native vlan 99
S2(config-if-range)# channel-group 2 mode passive
S2(config-if-range)# no shutdown

Jebakan yang Sering Bikin Siswa Gagal

Ini yang paling sering terjadi di lab:

Konfigurasi port tidak simetris. Misalnya di S1 kamu set trunk, tapi di S3 kamu lupa set trunk. EtherChannel bisa terbentuk tapi traffic tidak lewat. Solusi: pastikan kedua sisi punya konfigurasi yang sama persis — mode trunk, native VLAN, dan encapsulation.

Duplex atau speed port tidak sama. Kalau Fa0/3 speed 100 Mbps tapi Fa0/4 speed 10 Mbps, mereka tidak bisa digabung dalam satu channel. Pastikan semua port anggota punya pengaturan yang identik.

Konfigurasi trunk di port fisik, bukan di Po. Seharusnya kamu konfigurasi trunk di interface port-channel 1, bukan di interface fa0/3 langsung. Kalau salah urutan, bisa konflik.

Auto-auto atau passive-passive. Sudah dijelaskan di atas — tidak ada yang mengajak, EtherChannel tidak terbentuk.


Kuis Pemahaman

  1. Apa perbedaan utama antara PAgP dan LACP dari sisi kompatibilitas perangkat?

  2. Kalau output show etherchannel summary menampilkan flag I di sebuah port (bukan P), apa artinya dan apa kemungkinan penyebabnya?

  3. Mengapa konfigurasi trunk cukup dilakukan di interface port-channel 1 saja, tidak perlu masuk ke masing-masing interface fa0/3 dan fa0/4 secara terpisah?

Next