Gambaran besar dulu
Sebelum masuk ke detail, pahami dulu posisi BIOS/UEFI di dalam komputer.
Begini analoginya: waktu kamu nyalakan mobil, mesin tidak langsung jalan begitu saja. Ada proses pengecekan dulu, seperti aki cukup nggak, bensin ada nggak, oli aman nggak. Nah, BIOS/UEFI itu “sistem pengecekan awal” milik komputer. Setiap kali komputer dinyalakan, BIOS/UEFI bangun duluan sebelum Windows atau Linux ikut bangun.
BIOS itu singkatan dari Basic Input/Output System. Artinya: program dasar yang mengatur komunikasi awal antara hardware (perangkat keras) dan software (sistem operasi). UEFI (Unified Extensible Firmware Interface) itu versi modernnya. Fungsinya sama, cuma tampilannya lebih bagus dan fiturnya lebih lengkap. Komputer keluaran 2015 ke atas biasanya sudah pakai UEFI.
Yang perlu kamu tahu: BIOS/UEFI ini bukan program yang di-install di harddisk. Dia tersimpan di chip kecil di motherboard. Jadi meskipun harddisk-nya kosong atau rusak, BIOS/UEFI tetap bisa diakses.
Apa yang terjadi saat komputer dinyalakan?
Urutan kejadiannya begini:
- Kamu tekan tombol power.
- BIOS/UEFI langsung aktif dan menjalankan proses yang namanya POST (Power-On Self Test). POST ini mengecek: prosesor ada nggak, RAM terpasang nggak, keyboard terdeteksi nggak, harddisk atau SSD nyambung nggak. Kalau ada yang bermasalah, komputer biasanya mengeluarkan bunyi “beep” tertentu atau menampilkan pesan error.
- Kalau semua lolos pengecekan, BIOS/UEFI lanjut mencari sistem operasi (Windows, Linux, dll.) sesuai urutan boot yang sudah diatur.
- Sistem operasi ditemukan, lalu dimuat ke RAM. Baru deh kamu lihat tampilan login.
Seluruh proses dari langkah 1 sampai 4 itu cuma butuh beberapa detik. Makanya kamu harus cepat-cepat menekan tombol untuk masuk BIOS, karena jendela waktunya pendek.
Langkah-langkah masuk BIOS/UEFI dan mengatur pengaturan dasar
Persiapan sebelum mulai
- PC lab yang bisa di-restart (jangan pakai komputer yang sedang dipakai kerja orang lain).
- Satu buah flash drive bootable. Artinya flash drive yang sudah diisi file installer sistem operasi (misalnya Windows 10 atau Ubuntu) menggunakan tool seperti Rufus. Flash drive biasa yang isinya dokumen atau musik tidak bisa dipakai untuk ini.
- Catat merek motherboard komputer lab kamu. Ini menentukan tombol apa yang harus ditekan.
Langkah 1: Masuk ke BIOS/UEFI
Restart PC. Begitu layar mati dan mulai menyala lagi, perhatikan layar POST. Layar ini biasanya tampil sebentar, warnanya hitam dengan tulisan putih, dan ada keterangan seperti:
“Press DEL to enter Setup” “Press F2 to enter BIOS”
Tekan tombol yang diminta. Tombolnya beda-beda tergantung merek:
- Motherboard ASUS, MSI, Gigabyte → biasanya tombol Del (Delete)
- Laptop Lenovo, Acer → biasanya F2
- HP → sering pakai F10
- Beberapa merek lain → Esc atau F1
Tekan tombolnya berkali-kali (bukan ditahan, tapi tekan-tekan cepat) begitu layar mulai menyala. Kalau sudah keburu masuk Windows, berarti kamu telat. Restart lagi dan coba lebih cepat.
Yang sering salah di sini: siswa menunggu sampai logo Windows muncul baru menekan tombol. Itu sudah terlambat. Kamu harus menekan tombol sebelum logo Windows tampil, yaitu di detik-detik pertama layar menyala.
Langkah 2: Kenali menu-menu utama BIOS/UEFI
Setelah berhasil masuk, kamu akan melihat tampilan dengan beberapa tab menu. Navigasinya biasanya pakai tombol panah di keyboard (bukan mouse, kecuali UEFI modern yang sudah support mouse). Ini menu-menu yang umum ada:
Main — halaman pertama yang muncul. Isinya informasi dasar tentang sistem kamu: nama dan kecepatan prosesor, jumlah RAM yang terdeteksi, versi BIOS, dan tanggal/waktu sistem. Ini sifatnya informatif, kamu bisa lihat apakah hardware terdeteksi dengan benar.
Advanced — pengaturan hardware yang lebih detail. Misalnya mengatur mode SATA (AHCI atau IDE), mengaktifkan atau menonaktifkan virtualisasi prosesor, dan lain-lain. Untuk level awal, menu ini belum perlu diotak-atik. Salah setting di sini bisa bikin komputer tidak mau booting.
Boot — di sinilah kamu mengatur urutan booting. Urutan booting artinya: perangkat mana yang dicek duluan oleh BIOS untuk mencari sistem operasi. Ini menu yang paling sering kamu butuhkan.
Security — untuk mengatur password BIOS. Kalau password diaktifkan, siapa pun yang mau masuk BIOS harus memasukkan password dulu. Di lab sekolah, fitur ini kadang diaktifkan oleh admin agar siswa tidak sembarangan mengubah pengaturan.
Exit — menu untuk menyimpan perubahan dan keluar, atau keluar tanpa menyimpan.
Langkah 3: Cek dan koreksi tanggal/waktu sistem
Masuk ke tab Main. Cari bagian System Date dan System Time.
Kenapa ini perlu dicek? Karena kalau tanggal/waktu BIOS salah, efeknya bisa kemana-mana: sertifikat SSL website dianggap tidak valid (browser menolak membuka situs HTTPS), file yang kamu simpan punya timestamp yang salah, dan update Windows bisa gagal.
Kalau tanggal atau waktunya tidak sesuai, arahkan kursor ke situ dan tekan Enter untuk mengedit. Gunakan tombol +/- atau ketik langsung angkanya (tergantung versi BIOS).
Jebakan umum: tanggal/waktu BIOS yang sering reset sendiri ke tahun 2000-an atau 2010 biasanya tanda baterai CMOS sudah lemah. Baterai CMOS itu baterai bulat kecil (tipe CR2032) yang ada di motherboard. Kalau baterainya habis, setiap kali komputer dimatikan, pengaturan BIOS kembali ke default, termasuk tanggal dan waktu.
Langkah 4: Cek apakah hardware terdeteksi dengan benar
Masih di tab Main atau kadang ada di tab Advanced, cek informasi berikut:
- Nama dan kecepatan prosesor. Misalnya tertulis “Intel Core i3-10100 @ 3.60GHz”. Kalau di situ tertulis “Unknown” atau tidak muncul sama sekali, ada masalah pada prosesor atau socket-nya.
- Jumlah RAM. Misalnya tertulis “8192 MB” (artinya 8 GB). Kalau kamu tahu komputer itu harusnya punya 8 GB RAM tapi yang terdeteksi cuma 4 GB, kemungkinan salah satu keping RAM tidak terpasang dengan benar atau rusak.
- Harddisk/SSD. Biasanya muncul di daftar SATA devices. Kalau harddisk tidak terdeteksi, cek kabel SATA dan kabel power-nya.
Langkah 5: Ubah urutan boot (boot order)
Ini langkah yang paling sering dilakukan di BIOS. Pindah ke tab Boot.
Kamu akan melihat daftar perangkat, misalnya:
Boot Option #1: [Hard Drive]
Boot Option #2: [USB]
Boot Option #3: [CD/DVD]
Boot Option #4: [Network]
Artinya: saat ini komputer akan mencari sistem operasi di harddisk dulu. Kalau tidak ketemu, baru cari di USB, lalu CD/DVD, lalu lewat jaringan.
Untuk keperluan instalasi sistem operasi dari flash drive, kamu perlu mengubah urutannya menjadi:
Boot Option #1: [USB]
Boot Option #2: [Hard Drive]
Caranya: arahkan kursor ke Boot Option #1, tekan Enter, lalu pilih USB. Atau di beberapa BIOS, kamu bisa memindahkan urutan dengan tombol +/- atau F5/F6.
Jangan lupa: setelah selesai instalasi sistem operasi, kembalikan boot order ke harddisk di urutan pertama. Kalau tidak dikembalikan, setiap kali komputer dinyalakan dan flash drive masih tertancap, komputer akan selalu mencoba boot dari flash drive duluan. Ini bikin proses booting lambat atau malah nyangkut di layar installer lagi.
Langkah 6: Simpan perubahan dan keluar
Tekan F10. Akan muncul konfirmasi: “Save configuration and reset?” atau pesan serupa. Pilih Yes.
Alternatifnya: pindah ke tab Exit, pilih Save Changes and Exit.
Kalau kamu mau keluar tanpa menyimpan (misalnya kamu tidak sengaja mengubah sesuatu dan takut salah), pilih Discard Changes and Exit atau tekan Esc dan pilih No saat ditanya mau simpan atau tidak.
Langkah 7: Uji coba boot dari flash drive
Setelah komputer restart dengan boot order yang sudah diubah (USB di urutan pertama), dan flash drive bootable sudah tertancap, komputer seharusnya langsung masuk ke tampilan installer sistem operasi.
Kalau berhasil, kamu akan melihat layar installer (misalnya layar “Install Now” untuk Windows 10, atau layar “Try Ubuntu / Install Ubuntu” untuk Ubuntu).
Untuk latihan ini, jangan lanjutkan instalasinya. Cabut flash drive, lalu restart komputer. Komputer akan kembali booting dari harddisk seperti biasa.
Kalau tidak berhasil boot dari flash drive, cek kemungkinan berikut:
- Flash drive belum benar-benar bootable. Coba buat ulang pakai Rufus.
- USB port yang dipakai bermasalah. Coba pindah ke port USB lain.
- Secure Boot masih aktif. Secure Boot itu fitur keamanan UEFI yang menolak booting dari perangkat yang tidak dikenali. Kalau kamu mau boot dari flash drive Linux, Secure Boot kadang perlu dinonaktifkan dulu. Caranya: masuk BIOS lagi, cari di tab Security atau Boot, cari opsi Secure Boot dan ubah ke Disabled.
Rangkuman singkat
BIOS/UEFI itu firmware (program bawaan) di motherboard yang bertugas mengecek hardware dan memulai proses booting. Kamu masuk ke BIOS dengan menekan tombol tertentu (Del, F2, F10) saat komputer baru dinyalakan. Di dalam BIOS kamu bisa mengecek hardware yang terdeteksi, mengatur tanggal/waktu, mengubah urutan boot, dan mengatur keamanan. Setiap perubahan harus disimpan dengan F10 supaya berlaku.
Kuis pemahaman
- Kamu menyalakan komputer lab dan menekan tombol F2 berkali-kali, tapi yang muncul malah tampilan login Windows. Apa yang terjadi dan apa yang harus kamu lakukan?
- Kamu sudah mencolokkan flash drive berisi installer Ubuntu dan sudah mengubah boot order supaya USB di urutan pertama. Tapi saat restart, komputer tetap masuk ke Windows lama. Sebutkan dua kemungkinan penyebabnya.
- Setiap kali komputer lab dimatikan lalu dinyalakan lagi, tanggal dan waktu di BIOS selalu kembali ke tahun 2012. Apa penyebab paling umum dari masalah ini, dan bagaimana cara mengatasinya?