Gambaran Besar dulu
Bayangin kamu punya satu loyang pizza ukuran besar. Ada 4 orang yang mau makan. Kalau gak diatur, orang yang paling rakus akan habiskan semuanya, dan yang lain gigit jari.
Simple Queue itu sistem “jatah makan” yang kita pasang di router. Kita tentukan: si A boleh ambil segini, si B segini. Tidak bisa lebih dari jatahnya. Router yang jadi “penjaga antrian”-nya.
Bandwidth dari ISP kita anggap sebagai lebar jalan. Total jalan yang ada: 10 Mbps. Tugas kita: bagi jalan itu dengan adil dan sesuai kebutuhan.
Dua istilah yang wajib paham dulu
Sebelum praktik, ada 2 istilah teknis yang akan terus muncul:
CIR (Committed Information Rate)
Artinya: jatah bandwidth yang dijamin — minimum yang pasti dapat, apapun kondisinya. Di MikroTik, ini diset lewat parameter limit-at.
Analoginya: kamu pesan kamar hotel, dan pihak hotel berjanji minimal ada 1 bantal untukmu. Itu CIR.
MIR (Maximum Information Rate)
Artinya: batas maksimal bandwidth yang boleh dipakai. Di MikroTik, ini diset lewat max-limit.
Analoginya: kalau kamar di lantai atas kosong, kamu boleh pakai fasilitasnya. Tapi ada batasnya — tidak boleh ambil semua kamar. Itu MIR.
Jadi:
limit-at= jatah minimum yang dijamin (CIR)max-limit= batas paling tinggi yang boleh dicapai (MIR)
Topologi yang kita pakai
ISP (10 Mbps)
|
[MikroTik Router]
|
[Switch]
/ | | \
C1 C2 C3 C4
| Client | IP | Jatah |
|---|---|---|
| Client-1 | 192.168.1.1 | Tetap 2 Mbps (tidak lebih, tidak kurang) |
| Client-2 | 192.168.1.2 | Tetap 2 Mbps |
| Client-3 | 192.168.1.3 | Minimal 3 Mbps, bisa naik sampai 6 Mbps |
| Client-4 | 192.168.1.4 | Minimal 3 Mbps, bisa naik sampai 6 Mbps |
Client-1 dan Client-2 itu dedicated — artinya bandwidth mereka terkunci. Gak bisa kurang, gak bisa lebih dari 2 Mbps.
Client-3 dan Client-4 lebih fleksibel. Mereka dapat jaminan 3 Mbps, tapi kalau jaringan lagi sepi, bisa naik sampai 6 Mbps. Ini yang disebut pola CIR + MIR.
Langkah konfigurasi — satu per satu
Langkah 1: Queue untuk Client-1
Perintah di terminal MikroTik (New Terminal):
queue simple add name=Client-1 target=192.168.1.1/32 max-limit=2M/2M
Penjelasan tiap bagian:
name=Client-1— nama antriannya, bebas kita kasih apa sajatarget=192.168.1.1/32— ini berarti aturan ini berlaku untuk IP 192.168.1.1 saja (/32artinya tepat satu IP, bukan range)max-limit=2M/2M— format-nyaupload/download. Jadi upload max 2 Mbps, download max 2 Mbps
Karena tidak ada limit-at, CIR-nya mengikuti max-limit juga. Artinya memang dikunci di angka itu.
Langkah 2: Queue untuk Client-2
queue simple add name=Client-2 target=192.168.1.2/32 max-limit=2M/2M
Sama persis dengan Client-1, hanya target IP-nya yang beda.
Langkah 3: Queue untuk Client-3 (dengan CIR + MIR)
queue simple add name=Client-3 target=192.168.1.3/32 max-limit=6M/6M limit-at=3M/3M
Di sini ada dua parameter sekaligus:
limit-at=3M/3M→ CIR = 3 Mbps. Ini jatah minimum yang dijamin. Walaupun jaringan ramai, Client-3 tetap dapat minimal 3 Mbpsmax-limit=6M/6M→ MIR = 6 Mbps. Ini batas tertingginya. Kalau jaringan lagi sepi dan ada sisa bandwidth, Client-3 bisa dapat sampai 6 Mbps
Langkah 4: Queue untuk Client-4
queue simple add name=Client-4 target=192.168.1.4/32 max-limit=6M/6M limit-at=3M/3M
Konfigurasi identik dengan Client-3.
Langkah 5: Cek hasil konfigurasi
Jalankan perintah ini untuk melihat semua queue yang sudah dibuat:
queue simple print
Hasilnya akan muncul tabel seperti ini:
Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic
# NAME TARGET MAX-LIMIT LIMIT-AT
0 Client-1 192.168.1.1/32 2M/2M 0/0
1 Client-2 192.168.1.2/32 2M/2M 0/0
2 Client-3 192.168.1.3/32 6M/6M 3M/3M
3 Client-4 192.168.1.4/32 6M/6M 3M/3M
Kalau sudah muncul 4 baris seperti ini, konfigurasi berhasil.
Langkah 6: Verifikasi dari sisi client
Setelah queue terpasang, buka browser di komputer Client-1 lalu akses speedtest.net. Hasilnya harus menunjukkan sekitar 2 Mbps — tidak lebih.
Lakukan hal yang sama dari Client-3. Hasilnya harus di kisaran 3-6 Mbps tergantung kondisi jaringan saat itu.
Langkah 7: Monitoring traffic real-time
Di WinBox, masuk ke menu Tools > Torch.
Torch itu ibarat kacamata malam yang bisa melihat semua paket data yang lalu-lalang di interface kamu, termasuk berapa bandwidth yang dipakai tiap IP.
Pilih interface yang mengarah ke client (biasanya ether2 atau sesuai topologi lab), lalu amati traffic masing-masing client secara langsung.
Yang sering salah — antisipasi dari sekarang
Ada beberapa kesalahan yang umum terjadi saat konfigurasi Simple Queue:
Kesalahan 1: Nulis IP tanpa /32
target=192.168.1.1 ← SALAH
target=192.168.1.1/32 ← BENAR
Kalau tidak pakai /32, MikroTik bisa salah baca dan queue tidak bekerja seperti yang diinginkan.
Kesalahan 2: Format max-limit salah
max-limit=2M ← ambigu, MikroTik perlu upload/download
max-limit=2M/2M ← benar
Format-nya selalu upload/download, dipisah garis miring.
Kesalahan 3: limit-at lebih besar dari max-limit
limit-at=8M/8M max-limit=6M/6M ← tidak masuk akal
CIR tidak boleh lebih besar dari MIR. Ibarat jaminan minimal kamu lebih besar dari batas maksimal — itu kontradiksi.
Kesalahan 4: Satu IP masuk dua queue sekaligus
Kalau IP 192.168.1.1 terdaftar di dua queue berbeda, MikroTik akan pakai queue yang lebih dulu ditemukan (urutan dari atas). Queue kedua tidak akan jalan. Selalu cek dengan queue simple print sebelum menambah queue baru.
Kuis Pemahaman
Jawab tiga pertanyaan ini untuk cek seberapa paham kamu:
-
Apa perbedaan antara
limit-atdanmax-limitdalam Simple Queue? Jelaskan dengan kata-katamu sendiri — tidak perlu hafal istilah teknisnya. -
Client-3 dikonfigurasi dengan
limit-at=3M/3Mdanmax-limit=6M/6M. Pada saat jam makan siang dan jaringan sangat ramai, berapa kira-kira bandwidth yang akan didapat Client-3? Kenapa? -
Seorang teknisi membuat queue dengan perintah
queue simple add name=Test target=192.168.1.5/32 max-limit=5M/5M limit-at=8M/8M. Ada yang salah di sini. Apa masalahnya dan bagaimana cara memperbaikinya?