Gambaran besar dulu
Bayangkan kamu tinggal di sebuah perumahan. Setiap rumah punya nomor unik supaya tukang pos tahu harus kirim surat ke mana. Nah, IP Address itu persis seperti nomor rumah, tapi untuk komputer di jaringan. Tanpa IP Address, data yang dikirim tidak akan pernah sampai ke komputer tujuan.
IP Address versi 4 (IPv4) itu bentuknya empat kelompok angka yang dipisah titik. Contoh: 192.168.1.1. Setiap kelompok angka ini disebut oktet (artinya terdiri dari 8 bit dalam bilangan biner). Total ada 32 bit. Setiap oktet nilainya antara 0 sampai 255.
Kenapa 0-255? Karena 8 bit biner maksimalnya 11111111, kalau dikonversi ke desimal hasilnya 255.Coba geser slider ke angka 0 dan 255. Perhatikan pesan yang muncul: dua angka itu tidak bisa dipakai untuk komputer. Yang angka 0 itu network address (alamat jaringannya sendiri), dan yang 255 itu broadcast address (alamat untuk “teriak” ke semua komputer di jaringan itu sekaligus).
Pembagian kelas IP
IP Address dibagi jadi beberapa kelas berdasarkan angka oktet pertamanya. Ini seperti kode pos: dari angka pertamanya saja, kita sudah bisa tahu IP itu masuk “wilayah” mana.Klik masing-masing kelas untuk lihat penjelasannya. Ada satu hal yang sering bikin bingung: angka 127 itu “hilang” dari daftar. Kenapa oktet pertama loncat dari 126 langsung ke 128? Karena 127.x.x.x itu disediakan khusus buat loopback, yaitu komputer bicara sama dirinya sendiri. Kalau kamu ketik ping 127.0.0.1 di Command Prompt, kamu sedang ping komputermu sendiri.
IP Private vs IP Public
Sekarang pertanyaannya: kalau semua komputer di dunia butuh IP, apa cukup? Jawabannya: tidak cukup. IPv4 cuma bisa menampung sekitar 4,3 miliar alamat. Penduduk dunia saja sudah 8 miliar, belum ditambah HP, laptop, smart TV, dan IoT lainnya.
Solusinya? Dibuatlah aturan RFC 1918 yang menyediakan blok IP khusus untuk jaringan lokal (internal). IP ini namanya IP Private, dan boleh dipakai siapa saja tanpa daftar ke siapapun, asalkan cuma di jaringan lokal. IP ini tidak bisa “jalan-jalan” ke internet.
Coba ketik beberapa IP di kotak checker tadi. Misalnya:
10.0.0.1(Private kelas A)172.20.5.1(Private kelas B)192.168.1.100(Private kelas C, ini yang sering dipakai di lab)8.8.8.8(Public, ini DNS milik Google)127.0.0.1(Loopback)
Di lab SMK kita, router MikroTik biasanya pakai IP Private 192.168.x.x untuk jaringan LAN. Nanti supaya komputer di jaringan lokal bisa akses internet, dibutuhkan NAT (Network Address Translation) yang tugasnya “menerjemahkan” IP Private jadi IP Public saat data keluar ke internet lewat wlan1.
Subnetting: memotong jaringan jadi potongan lebih kecil
Subnetting itu ibarat memotong satu lantai gedung jadi beberapa ruangan. Gedungnya tetap satu, tapi ruangannya bisa banyak. Kenapa perlu dipotong? Supaya lebih efisien dan lebih aman. Jaringan kecil lebih mudah dikelola daripada satu jaringan raksasa.
Konsep utamanya: kita “meminjam” beberapa bit dari bagian host untuk dijadikan bagian network. Semakin banyak bit yang dipinjam, semakin banyak subnet yang terbentuk, tapi semakin sedikit host per subnet.
Coba geser slider prefix dari /24 ke /26. Perhatikan apa yang terjadi:
- Prefix /24 = 1 jaringan, 254 host. Ini jaringan utuh tanpa dipotong.
- Prefix /26 = 4 subnet, masing-masing 62 host. Kita “meminjam” 2 bit dari host, jadi 2^2 = 4 subnet.
- Prefix /28 = 16 subnet, masing-masing 14 host. Cocok buat lab kecil.
- Prefix /30 = 64 subnet, masing-masing cuma 2 host. Ini biasa dipakai untuk koneksi point-to-point antar router.
Cara hitungnya gampang. Misalnya prefix /26:
- Bit yang dipinjam = 26 – 24 = 2 bit
- Jumlah subnet = 2^2 = 4
- Jumlah IP per subnet = 2^(32-26) = 2^6 = 64
- Jumlah host per subnet = 64 – 2 = 62 (kurangi 2 karena network address dan broadcast address tidak boleh dipakai)
Verifikasi langsung di PC
Buka Command Prompt (tekan tombol Windows, ketik cmd, Enter), lalu ketik:
ipconfig
Yang perlu kamu perhatikan dari hasilnya:
- IPv4 Address: ini IP komputermu. Contoh: 192.168.1.10
- Subnet Mask: ini menentukan mana bagian network dan mana bagian host. Contoh: 255.255.255.0 artinya /24
- Default Gateway: ini IP router yang jadi “pintu keluar” ke jaringan lain atau internet. Biasanya IP pertama di jaringan, misalnya 192.168.1.1
Setelah lihat hasilnya, coba jawab sendiri: IP komputermu masuk kelas apa? Private atau Public? Berapa jumlah host maksimal di jaringan itu?
Jebakan yang sering bikin salah
- Lupa bahwa 127.x.x.x bukan IP biasa. Banyak siswa yang mengira 127.0.0.1 itu kelas A biasa. Salah. Itu alamat loopback khusus.
- Bingung antara /12 dan /16 pada IP Private kelas B. Range-nya 172.16.0.0 sampai 172.31.255.255. Jadi 172.32.0.0 itu sudah bukan Private lagi! Banyak yang salah mengira semua 172.x.x.x itu Private.
- Lupa mengurangi 2 saat hitung host. Rumusnya 2^n – 2, bukan 2^n. Dua yang dikurangi itu network address (semua bit host = 0) dan broadcast address (semua bit host = 1).
- Salah pasang subnet mask di MikroTik. Kalau di lab kita pakai 192.168.1.0/24, pastikan subnet mask-nya 255.255.255.0. Kalau kamu tidak sengaja pakai /16 (255.255.0.0), semua IP dari 192.168.0.1 sampai 192.168.255.254 dianggap satu jaringan. Akibatnya routing bisa kacau.
Kuis pemahaman
- IP Address 172.20.10.5 termasuk IP Private atau IP Public? Masuk kelas apa?
- Sebuah jaringan 192.168.10.0/27 punya berapa subnet (jika dipecah dari /24) dan berapa host per subnet?
- Kenapa IP 192.168.1.0 dan 192.168.1.255 pada jaringan /24 tidak boleh dipakai untuk komputer?