Konfigurasi Jaringan: IP Statis dan DHCP di Windows dan Linux

Updated on April 3, 2026

Apa yang perlu disiapkan sebelum mulai

Sebelum masuk ke langkah teknis, pastikan hal-hal ini sudah siap:

PC atau laptop dengan Windows 10 terinstal, dan VirtualBox dengan VM Ubuntu (versi 18.04 ke atas, karena Netplan jadi default mulai versi ini). Di VirtualBox, adapter jaringan VM bisa diset ke Bridged Adapter kalau ingin VM dapat IP dari router fisik yang sama dengan host, atau NAT Network kalau ingin VM-VM saling berkomunikasi dalam jaringan virtual tersendiri. Mode NAT biasa (bukan NAT Network) tidak cocok untuk latihan ini karena VM tidak bisa saling ping.

Satu hal yang sering terlewat: pastikan kabel jaringan (kalau pakai Ethernet) benar-benar terhubung, atau WiFi sudah tersambung. Kedengarannya sepele, tapi ini penyebab nomor satu gagalnya konfigurasi jaringan di lab.


Bagian 1: Windows 10

Langkah 1 — Lihat konfigurasi jaringan yang sedang berjalan

Buka Command Prompt. Cara tercepat: tekan Win + R, ketik cmd, tekan Enter.

Ketik perintah ini:

ipconfig /all

Perintah ini menampilkan semua detail interface jaringan. Yang perlu dicatat dari output-nya:

  • IPv4 Address, misalnya 192.168.1.5
  • Subnet Mask, biasanya 255.255.255.0
  • Default Gateway, misalnya 192.168.1.1
  • DNS Servers, misalnya 192.168.1.1 atau DNS ISP
  • DHCP Enabled: kalau tertulis “Yes”, berarti IP saat ini didapat otomatis dari DHCP server (biasanya router)

Catat semua nilai ini di kertas atau notepad. Nanti berguna sebagai referensi dan untuk troubleshooting kalau konfigurasi statis tidak berhasil.

Satu detail yang sering diabaikan siswa: perhatikan nama adapter-nya. Bisa “Ethernet” kalau pakai kabel, atau “Wi-Fi” kalau wireless. Nama ini perlu diketahui karena satu PC bisa punya beberapa adapter sekaligus.

Langkah 2 — Mengubah dari DHCP ke IP statis (via GUI)

Buka Settings (tekan Win + I), pilih Network & Internet. Di panel kiri, pilih Ethernet (kalau pakai kabel) atau Wi-Fi (kalau wireless).

Klik nama koneksi yang aktif. Scroll ke bawah sampai ketemu bagian “IP settings”, lalu klik tombol Edit.

Ubah dari “Automatic (DHCP)” ke “Manual”. Aktifkan toggle IPv4. Isi field-nya seperti ini:

IP address        : 192.168.1.100
Subnet prefix length : 24
Gateway           : 192.168.1.1
Preferred DNS     : 8.8.8.8
Alternate DNS     : 8.8.4.4

Klik Save.

Soal angka-angka di atas, ini penjelasannya:

IP address 192.168.1.100 dipilih karena biasanya DHCP server router rumahan mengalokasikan IP di rentang .2 sampai .99 atau .2 sampai .254. Dengan memilih .100, kemungkinan bentrok (conflict) dengan IP yang sudah di-assign DHCP ke perangkat lain lebih kecil. Tapi ini bukan jaminan. Cara paling aman: cek dulu rentang DHCP di halaman admin router.

Subnet prefix length 24 sama artinya dengan subnet mask 255.255.255.0. Angka 24 berarti 24 bit pertama dari IP address dipakai sebagai network ID, sisanya (8 bit) untuk host. Jadi dalam satu subnet ini bisa ada maksimal 254 host (dari .1 sampai .254, karena .0 adalah network address dan .255 adalah broadcast address).

Gateway 192.168.1.1 adalah IP router. Semua trafik ke luar jaringan lokal akan dikirim lewat alamat ini.

DNS 8.8.8.8 dan 8.8.4.4 adalah DNS publik milik Google. Dipilih karena cepat dan mudah diingat. Alternatif lain: 1.1.1.1 dari Cloudflare.

Langkah 3 — Verifikasi konfigurasi statis

Buka CMD lagi, jalankan:

ipconfig

(Kali ini tanpa /all juga cukup untuk verifikasi cepat.)

Periksa apakah IP address sudah berubah jadi 192.168.1.100, subnet mask 255.255.255.0, dan gateway 192.168.1.1.

Lalu tes koneksi bertahap. Urutan ini bukan kebetulan, tapi metode troubleshooting dari lapisan paling dasar ke atas:

ping 192.168.1.1

Ini mengetes koneksi ke gateway (router). Kalau gagal, masalahnya ada di konfigurasi IP atau koneksi fisik. Belum perlu tes lebih jauh.

ping 8.8.8.8

Ini mengetes koneksi ke internet. Kalau ping ke gateway berhasil tapi ke 8.8.8.8 gagal, kemungkinan gateway tidak meneruskan paket, atau ada masalah routing.

ping google.com

Ini mengetes DNS resolution. Kalau ping ke 8.8.8.8 berhasil tapi ping google.com gagal (muncul pesan “could not find host”), berarti konfigurasi DNS yang bermasalah.

Satu perintah lagi yang berguna:

tracert google.com

Perintah ini memperlihatkan rute paket dari PC ke server tujuan, hop per hop. Tiap baris adalah satu router yang dilalui. Berguna untuk melihat di titik mana koneksi terputus.

Langkah 4 — Kembalikan ke DHCP

Ulangi jalur yang sama: Settings > Network & Internet > Ethernet/Wi-Fi > klik nama koneksi > IP settings > Edit. Ubah dari Manual kembali ke “Automatic (DHCP)”. Klik Save.

Verifikasi dengan ipconfig. IP address seharusnya berubah lagi ke IP yang diberikan DHCP server. Kadang perlu tunggu beberapa detik, atau jalankan:

ipconfig /release
ipconfig /renew

Perintah /release melepas IP dari DHCP, /renew meminta IP baru. Berguna kalau pergantian tidak langsung terjadi.


Bagian 2: Ubuntu Linux (VM di VirtualBox)

Langkah 5 — Lihat konfigurasi jaringan saat ini

Buka Terminal (Ctrl + Alt + T).

Jalankan tiga perintah ini:

ip addr show

Perintah ini menampilkan semua interface jaringan dan IP address-nya. Cari interface yang aktif, biasanya bernama enp0s3 (untuk adapter pertama di VirtualBox) atau ens33 (di VMware). Nama eth0 sudah jarang dipakai di Ubuntu modern.

Yang perlu diperhatikan dari output-nya: cari baris yang mengandung inet (bukan inet6). Contoh:

inet 192.168.1.5/24 brd 192.168.1.255 scope global dynamic enp0s3

Kata dynamic di situ berarti IP didapat dari DHCP.

ip route show

Menampilkan routing table. Baris yang dimulai dengan default via menunjukkan gateway. Contoh:

default via 192.168.1.1 dev enp0s3
cat /etc/resolv.conf

Menampilkan DNS server yang sedang dipakai. Cari baris nameserver. Di Ubuntu Desktop modern, file ini sering dikelola oleh systemd-resolved, jadi isinya mungkin cuma nameserver 127.0.0.53 (DNS lokal yang di-proxy oleh systemd). Untuk lihat DNS yang sebenarnya dipakai:

resolvectl status

Langkah 6 — Set IP statis via Netplan

Ubuntu 18.04 ke atas menggunakan Netplan sebagai abstraksi konfigurasi jaringan. File konfigurasinya ada di /etc/netplan/. Nama file-nya bisa beda-beda: 01-netcfg.yaml, 01-network-manager-all.yaml, 50-cloud-init.yaml, tergantung bagaimana Ubuntu diinstal.

Cek dulu file apa yang ada:

ls /etc/netplan/

Edit file yang ada (contoh pakai 01-netcfg.yaml):

sudo nano /etc/netplan/01-netcfg.yaml

Ganti isinya jadi seperti ini:

network:
  version: 2
  renderer: networkd
  ethernets:
    enp0s3:
      dhcp4: no
      addresses:
        - 192.168.1.101/24
      gateway4: 192.168.1.1
      nameservers:
        addresses:
          - 8.8.8.8
          - 8.8.4.4

Soal format YAML, ada beberapa hal yang sering jadi sumber error:

YAML sangat sensitif terhadap indentasi. Gunakan spasi, jangan tab. Setiap level indentasi biasanya 2 spasi. Kalau pakai tab, Netplan akan menolak file-nya dan menampilkan error saat apply.

Field renderer menentukan backend yang mengelola jaringan. Untuk Ubuntu Server, biasanya networkd. Untuk Ubuntu Desktop, bisa NetworkManager. Kalau salah pilih renderer, konfigurasi bisa diabaikan.

Setelah Ubuntu 22.04, gateway4 sudah deprecated (tidak direkomendasikan lagi). Penggantinya pakai routes:

network:
  version: 2
  renderer: networkd
  ethernets:
    enp0s3:
      dhcp4: no
      addresses:
        - 192.168.1.101/24
      routes:
        - to: default
          via: 192.168.1.1
      nameservers:
        addresses:
          - 8.8.8.8
          - 8.8.4.4

Cara routes ini lebih future-proof. Kalau pakai gateway4 di Ubuntu 22.04+, muncul warning tapi biasanya masih jalan. Di versi yang lebih baru, bisa saja benar-benar error.

Simpan file di nano: Ctrl + O, Enter, lalu Ctrl + X untuk keluar.

Langkah 7 — Terapkan konfigurasi dan verifikasi

Sebelum apply, tes dulu apakah file YAML-nya valid:

sudo netplan try

Perintah ini menerapkan konfigurasi secara sementara selama 120 detik. Kalau koneksi terputus (misalnya karena typo di IP atau gateway), konfigurasi otomatis rollback ke yang sebelumnya. Ini jauh lebih aman daripada langsung apply, terutama kalau mengakses server lewat SSH.

Kalau netplan try berhasil dan koneksi masih jalan, konfirmasi dengan tekan Enter. Atau langsung apply secara permanen:

sudo netplan apply

Verifikasi:

ip addr show enp0s3

Pastikan IP sudah berubah ke 192.168.1.101/24 dan tidak ada lagi kata dynamic.

Tes koneksi:

ping -c 4 8.8.8.8

Flag -c 4 artinya kirim 4 paket saja lalu berhenti. Tanpa flag ini, ping di Linux jalan terus sampai dihentikan manual pakai Ctrl + C (beda dengan Windows yang default-nya 4 paket).

traceroute google.com

Kalau traceroute belum terinstal:

sudo apt install traceroute

Perhatikan bahwa di Windows perintahnya tracert, di Linux traceroute. Fungsinya sama.

Mengembalikan ke DHCP di Linux

Edit kembali file Netplan:

sudo nano /etc/netplan/01-netcfg.yaml

Ubah isinya jadi:

network:
  version: 2
  renderer: networkd
  ethernets:
    enp0s3:
      dhcp4: yes

Hapus baris addresses, routes/gateway4, dan nameservers. Lalu apply:

sudo netplan apply

Verifikasi dengan ip addr show enp0s3. Seharusnya IP berubah dan muncul kembali kata dynamic.


Apa yang bisa salah (dan cara mengatasinya)

IP conflict. Dua perangkat di jaringan yang sama pakai IP identik. Gejalanya: koneksi putus-nyambung, atau muncul pesan “IP address conflict detected” di Windows. Solusi: ganti IP statis ke angka lain yang belum terpakai, atau cek dulu pakai ping 192.168.1.100 sebelum assign. Kalau tidak ada reply, biasanya aman.

Salah subnet. Misalnya gateway di 192.168.1.1 tapi IP statis diset 192.168.2.100. Keduanya beda subnet. PC tidak akan bisa mencapai gateway. Solusi: pastikan tiga oktet pertama IP address dan gateway sama (kalau subnet mask-nya /24).

DNS tidak diisi. IP statis berhasil, ping ke 8.8.8.8 berhasil, tapi ping google.com gagal. Ini karena lupa mengisi DNS saat set IP statis. DHCP biasanya otomatis memberikan DNS, tapi mode manual tidak.

Typo di YAML. Penyebab error Netplan paling umum. Satu spasi kurang atau satu tab terselip, file langsung ditolak. Pesan error-nya kadang tidak jelas. Contoh: mapping values are not allowed here biasanya berarti ada masalah indentasi. Pakai sudo netplan try selalu, jangan langsung apply.

Interface name salah. File Netplan menyebut enp0s3 tapi interface di VM sebenarnya enp0s8 (karena adapter kedua yang aktif). Cek dengan ip link show untuk melihat daftar interface yang tersedia.

Firewall memblokir ping. Di Windows, Windows Firewall secara default memblokir ICMP (protokol yang dipakai ping) dari luar. Jadi kalau VM Linux ping ke Windows dan gagal, belum tentu konfigurasi salah. Coba matikan firewall sementara untuk tes, atau buat rule khusus untuk mengizinkan ICMP.


Kuis review

  1. Seorang siswa sudah mengatur IP statis di Windows: IP 192.168.1.100, subnet /24, gateway 192.168.1.1, DNS 8.8.8.8. Perintah ping 8.8.8.8 berhasil, tapi ping google.com gagal dengan pesan “could not find host”. Anehnya, temannya yang duduk di sebelah juga punya konfigurasi yang persis sama dan bisa ping google.com. Apa kemungkinan penyebabnya dan bagaimana cara memastikannya?
  2. Di Ubuntu 22.04, seorang siswa menulis file Netplan dengan gateway4: 192.168.1.1. Setelah sudo netplan apply, muncul warning tapi jaringan tetap jalan. Minggu berikutnya, setelah update sistem, konfigurasi yang sama tiba-tiba error. Apa yang terjadi, dan bagaimana cara memperbaiki file Netplan-nya?
  3. Seorang siswa di lab menjalankan sudo netplan apply untuk mengganti IP statis di VM Ubuntu yang dia akses lewat SSH dari PC Windows. Setelah apply, koneksi SSH langsung terputus dan dia tidak bisa masuk lagi. Perintah apa yang seharusnya dia pakai sebelum apply untuk menghindari situasi ini, dan bagaimana mekanisme perintah itu bekerja?